Balian Adalah Praktisi Usada Bali?

Praktisi Usada Bali

Praktisi Usadha Bali

Balian adalah pengobat tradisional Bali yakni, orang yang mempunyai kemampuan untuk mengobati orang sakit sehingga seorang pasien bisa kembali sehat atau sembuh dari suatu penyakit yang dideritanya.

Jenis balian berdasarkan pengetahuan yang diperolehnya :

  • Balian katakson ialah Balian yang mendapat keahlian melalui taksu. Karena kemasukan taksu inilah orang tersebut mampu untuk mengobati orang yang sakit.
  • Balian kapican ialah orang yang mendapat benda-benda bertuah dipergunakan untuk menyembuhkan orang sakit. Benda bertuah ini disebut paica.
  • Balian usada ialah seseorang dengan sadar belajar tentang ilmu pengobatan, baik melalui pada balian, belajar dari guru waktra (mapanabean), maupun belajar sendiri melalui lontar usada.
  • Balian campuran ialah Balian katakson maupun Balian pica yang mempelajari usada.

 

Jenis Balian berdasarkan tujuannya :

  • Balian panengen (mengamalkan kebaikan)
  • Balian Pangiwa (ngugig angindra jala atas permintaan pasiennya atau demi kepentingan pribadinya)

Jenis balian berdasarkan profesi :

  • Lung (patah tulang)
  • Manak (beranak)
  • Apun (lulur)
  • Uwut (urut)
  • Kacekel (pijat)

Anamnesa / pemeriksaan klient

Untuk membentuk sebuah hubungan Usadawan dengan klient maka memiliki beberapa tujuan adalah sebagai berikut:

  1. Membentuk Hubungan singkrunisasi Usadawan dan Pasien

Melakukan sambung rasa dengan mengucapkan salam

Bersikap baik dan sopan

Buat suasana santai, tapi serius

Bicara dengan jelas, mudah dengan bahasa yang mudah dipahami dan dimengerti oleh pasien

Cari informasi secara detail,  Jadilah pendengar yang baik.

Tahu bahasa non-verbal,     Catat hasil wawancara

Kirim umpan balik,  Ulangi

Bersikap netral terhadap pasien, Wawancara tapi usahakan tidak banyak pertanyaan

 

  1. Mencari Informasi Medis

Untuk menggali sebuah informasi medis dapat menanyakan:

Mintalah keluhan utama, riwayat perawatan klient sebelumnya.

Mintalah informasi identitas pribadi dan informasi latar belakang tentang pasien.

Minta penjelasan kenapa ke memilih pengobatan tradisional.

 

Sakit karena tidak adanya kesehimbangan:

  1. Tri Dosha (Tri Sakti)

Sistem tubuh dikendalikan oleh suatu cairan humoral. Cairan humoral ini terdiri dari tiga unsur yang disebut dengan tri dosha (vatta=unsur udara, pitta=unsur api, dan kapha=unsur air). Tiga unsur cairan tri dosha (Unsur udara, unsur api, dan unsur air)

  1. Ketuhanan (Siwasidhanta)

Pratek pengobatan oleh balian dan menurut agama Hindu di Bali (Siwasidhanta), Ida Sang Hyang Widhi atau Bhatara Siwa (Tuhan) yang menciptakan semua yang ada di jagad raya ini. Beliau pula yang mengadakan penyakit dan obat. Dalam beberapa hasil wawancara dengan balian dan sesuai dengan yang tertera dalam lontar (Usada Ola Sari, Usada Separa, Usada Sari, Usada Cemeng Sari) disebutkan siapa yang membuat penyakit dan siapa yang dapat menyembuhkannya. Penyakit itu tunggal dengan obatnya, apabila salah cara mengobati akan menjadi penyakit dan apabila benar cara mengobati akan menjadi sembuh (sehat).

Secara umum penyakit ada tiga jenis, yakni: penyakit panes (panas), nyem (dingin), dan  sebaa (panas-dingin). Demikian pula tentang obatnya. Ada obat yang berkasihat: anget (hangat), tis (sejuk), dan·         dumelada (sedang).

Disebut juga dengan Sang Hyang Tri Purusa atau Tri Murti atau Tri Sakti wujud Beliau adalah api, air dan udara. Penyakit panes dan obat yang berkasihat anget, menjadi wewenang Bhatara Brahma. Bhatara Wisnu bertugas untuk mengadakan penyakit nyem dan obat yang berkasihat tis. Bhatara Iswara mengadakan penyaki sebaa dan obat yang berkasihat dumelada. Penyakit seperti kita ketahui, tidaklah hanya merupakan gejala biologi saja, tetapi memiliki dimensi yang lain yakni sosial budaya. Menyembuhkan suatu Penyakit tidaklah cukup hanya ditangani masalah biologinya saja, tetapi harus digarap masalah sosial budayanya. Masyarakat pada umumnya mencari pertolongan pengobatan bukanlah karena penyakit yang patogen, tetapi kebanyakan akibat adanya kelainan fungsi dari tubuhnya. Masyarakat di Bali masih percaya bahwa pengobatan dengan usada banyak maanfaatnya untuk menyembuhkan orang sakit.

 

  1. Hubungan Bhuana Agung dan Bhuana Alit

Bhuana artinya, alam, dunia jagat. Agung artinya besar (jagat raya). Alit artinya kecil. Bhuana agung artinya dunia besar atau alam semesta. Bhuana Agung disebut dengan istilah Makrokosmos. Bhuana alit artinya dunia kecil (mahluk hidup). Bhuana alit disebut dengan istilah Mikrokosmos.Unsur-unsur pembentuk bhuana agung dan bhuana alit adalah panca maha bhuta. Unsur-unsur Panca Mahabhuta di Bhuana Agung. a. Pertiwi    : tanah, batu, pasir dan lain-lain. b. Apah       : zat cair seperti air sungai, air danau air tawar, dan sebagainya. c. Teja         :  Sinar matahari d. Bayu       :  gas, angin e. Akasa     :  ether Unsur-unsur panca maha bhuta di Bhuana Alit : a. Pertiwi   : tulang dan daging b. Apah      : darah, air dalam tubuh. c. Teja         : panas badan d. Bayu       : nafas e. Akasa     : rongga dada dan mulut Contoh bhuana agung adalah : alam semesta beserta semua isinya misalnya : matahari, bulan, bintang, gunung, sungai beserta planet-planet lainnya. Contoh Bhuana alit manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan. Persamaan bhuana agung dengan bhuana alit sama-sama dibentuk oleh unsur panca maha bhuta. Perbedaan bhuana agung dan bhuana alit dari unsur panca maha bhuta.

Panca Maha Bhuta Bhuana Agung Bhuana Alit

  1. Pertiwi (tanah, pasir,batu) tulang, daging
  2. Apah (air laut, air danau) darah, air mata,
  3. Teja (matahari, cahaya) panas badan
  4. Bayu (gas, udara) nafas,
  5. Akasa (ether/rongga tubuh) rongga dada, mulut

 

Dalam tubuh manusia letak Panca Mahabhuta tersebut juga ada rerajahannya (aksara suci dan bntuknya : Kandapat – Panca Mahabhuta dalam tubuh manusia Dengan menguasai secara selaras keberadaan unsur-unsur panca mahabhuta tersebut yang ada di Bhuana Alit (Mokrokosmos) dengan Bhuana Agung / Alam Semesta (Bhuana Agung), maka pembelajar/sisye diyakini memiliki kemampuan “mengendalikan” peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam semesta, seperti misalnya memiliki kemampuan mengendalikan hujan, angin/arah angin, pun demikian halnya dengan petir, dan lain sebagainya. Itu sebabnya di Bali sering terjadi dan diyakini jika pada saat-saat tertentu ketika hujan banyak sekali terjadi kilatan-kilatan petir yang nota bene tidak ada gemuruh gunturnya, pun sesekali ada gemuruhnya. Itu diyakini sebagai bentuk “perang” antara orang yang membuat/mengirimkan hujan dengan orang yang menghalau hujan. Demikian pula halnya dengan keberadaan bola-api di angkasa yang sering terjadi di saat-saat tertentu yang bolanya menyala dengan berbagai warna menyambar-nyambar saling serang dan saling menjatuhkan. Pemahaman lebih lanjut terhadap penguasaan pengemdalian unsur alam semesta melalui penguasaan unsur-unsur yang ada dalam diri manusia (selanjutnya disebut dengan istilah penyelarasan unsur Makrokosmos dan Mikrokosmos) diawali dengan penguasaan AKSARA/SASTRA yang ada di alam semesta dan yang ada dalam tubuh manusia

Jenis Penyakit.

Penyakit secara umum dapat dibedakan atas dua macam yaitu :

  1. Penyakit Sekala (Penyakit naturalistik) :
  • Dalem (Penyakit Dalam)
  • Penyakit Panas
  • Penyakit Panas-Dingin
  • Penyakit Dingin.
  • Barah (Bengkak local)
  • Mokan (Badan bengkak dan sakit)
  • Buh (perut bengkak dan berair)
  • Pemali (Sakit seperti ditusuk-tusuk)
  • Sula (Sakit melilit di perut atau kolik)
  • Sirah (sakit kepala, pusing)
  • Kulit (Penyakit kulit)
  • Tuju (Rematik, bengkak berpindah)
  • Tiwang (Sakit ngilu atau kejang)
  • Upas (Gatal dari dalam badan atau luar badan)

 

  1. Penyakit Niskala (Penyakit Personalistik)
  • Leyak (Penyakit disebabkan oleh manusia yang dilihat lain)
  • Desti (Penyakit dengan mempergunakan media milik yang akan dituju)
  • Teluh (Penyakit yang disebabkan oleh makhluk mirip manusia seperti bayangan, dll)
  • Papasangan (Penyakit disebabkan oleh benda yang berkekuatan magis di tanam di tempat orang yang dituju)

 

Jenis penyakt naturalistic dan Personalistik : (TRIVIDHA DUKHA (WREHASPATI TATTWA, 1994))

  1. Penyakit fisik /Keteledoran diri (Adibhautika Duhka):
  • Kesehimbangan Tridosha  (hanget /(unsur api)> Tis, dumelada (unsur air)> Anget, nyem/sebehe (unsur udara) > Tis dan hangat)
  • Hubungan harmonis: makrokosmos dan mikrrolosmos (unsur pembentuk); lima unsur (panca maha butha): (1) bayu, (2) teja, (3) apah, (4) akasa, dan (5) pertiwi. (Suryadarma (2005))

        kena luka, terbakar, kena racun,  tergigit binatang, virus, bhakteri dls

  1. Pikiran (Adyatmika Duhka), stress, inguh, kausa mental, mala dan letuh, > Melukat, Bayuh wuton , naur sesangi; Pemali > kosala-kosali (letak rumah), didiagnosis dengan agama Premana / manusia istimewa, ide / spiritual tinggi/berjnana, ideping taksu widhi (Pemalinan, Keponggor, dls).
  2. supranatural (Adidaiwaika Duhka,)

Penyakit  digawe orang (energy batin (mantra-mantra, bebayuhan atau tenaga prana), meningkatkan kekebalan keimanan dengan sugesti (pemberian jimat-jimat tertentu dan dengan barang bertuah atau minyak khusus dari benda gaib / paica, dengan air putih (tirta /penawar). (Nala (1994: 185))

(1)   Mala adalah sakit/gangguan kesehatan pada mental/pikiran individu  yang disebabkan oleh adanya gangguan bio-psikologis dan karena faktor nonbiomedis berupa kekuatan supranatural

 (2) Letuh,yakni gangguan fisik atau mental yang dialami seseorang karena faktor bawaan dari sejak lahir dan atau muncul kemudian sebagai akibat dari faktor supranatural (hukum karma/karma wesana), perbutan yang dilakukan pada kehidupan tergahulu dan harus dijalani pada kehidupan sekarang, sehingga seseorang mengalami jenis penyakit tertentu yang sulit untuk disembuhkan.

(3) Penyakit Niskala Gawe Wong (Penyakit Personalistik)

  • Leyak (Penyakit disebabkan oleh manusia yang dilihat lain)
  • Desti (Penyakit dengan mempergunakan media milik yang akan dituju)
  • Teluh (Penyakit yang disebabkan oleh makhluk mirip manusia seperti bayangan, dll)
  • Papasangan (Penyakit disebabkan oleh benda yang berkekuatan magis di tanam di tempat orang yang dituju)

Serana dan Tamba

Pengobatan yang dilakukan oleh Balian di Bali dikenal dengan istilah Tatambaan, dimana Tamba berarti obat (ubad). Dalam prosesi pembuatan obat oleh balian ada dua hal yang perlu mendapat perhatian yakni serana dan tamba. Tamba adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk menyembuhkan orang sakit, pada umumnya terdiri dari ramuan tumbuh-tumbuhan. Sedangkan serana adalah merupakan alat penghubung antara kekuatan Balian dengan penyebab penyakit yang ada pada pasien. Obat yang diberikan oleh orang biasa tanpa disertai dengan kekuatan gaib, maka dikatakan bahwa obat itu tanpa serana. Tamba dan serana merupakan satu kesatuan sebagai suatu alat untuk menyembuhkan orang yang sakit. Keduanya saling menunjang agar dapat berfungsi maksimal.

Bahan obat

Fungsi Ramuan Usada

  • Obat pencegahan (preventif
  • obat menghilangkan gejala penyakit saja (simptomatik
  • obat sebagai penyembuhkan penyakit (kuratif)
  • obat sebagai meningkatkan derajat kesehatan (promotif)
  • obat mengembalikan keadaan sehat seperti kearah semula (rehabilitatif)

Penyakit Sekala dan niskala :

Bahan Obat :

  • Taru (tanaman)
  • Sato atau Buron (binatang)
  • Mustika Pramana: Yeh atau Toya (air), Sarana pertiwi (garam, mineral), Madu, susu, arak, tuak, dan brem.

Bentuk Obat :

  • Padet (padat)
  • Enceh (cair)
  • Belek (setengah padat-cair)

Cara Pembuatan :

  • Ulig (digerus)
  • Pakpak (dikunyah)
  • Lablab (direbus)
  • Goreng (digoreng)
  • Nyahnyah (dioseng)
  • Tambus (dimasukkan diabu panas)
  • Tunu (dipanggang)

Cara Penggunaan :

Obat dalam :

  • Tetes (diteteskan)
  • Tutuh (dimasukkan melalui hidung)
  • Loloh (diminum)

Obat luar :

  • Oles (dioleskan)
  • Boreh (dilulur)
  • Simbuh (disembur)
  • Uap (diurapkan)
  • Usug (dikompres)
  • Ses (pembersihan luka)
  • Limpun (diurut)
  • Kacekel (dipijat)
  • Tampel (ditempel).

Khasiat obat :

  • Anget (panas)
  • Tis (dingin)
  • Dumalada (sedang).

Penyakit Niskala (Personalistik) :

Dengan mempergunakan prana (energi) melalui :

  • Meditasi
  • Menghidupkan chakra.
  • Menghidupkan aksara dalam diri
  • Dengan dasa bayu
  • Dengan kanda pat.
  • Tantra, Yantra, dls.

Filosophy Pengobatan Usada:

secara : Imperis, transidental – Imanent.

  1. Kajian Ilmiah: Ilmu kedokteran Modern dan farmkologi
  2. Imperis : bisa di rasakan dan diterangkan menurut hukum / peralatan yang dibuat oleh manusia.
  3. Transidental : Wahyu Tuhan bisa dirasakan dengan jiwa dan batin yang dalam, seperti yang diterangkan dalam agama.
  4. Imanent : Hubungan manusia dengan Tuhan.

 MISTIK ( dalam Agama Hindu )

Adalah pengalaman spiritual dari seorang ( manusia ) yang bisa mengetahui dan merasakan persatuan atau kesatuan jiwanya dengan Brahman ( Tuhan Yang Maha Esa )

MISTIKISME ( mysticisme )

Adalah ajaran atau latihan – latihan untuk memperoleh pengalaman dan pengetahuan keahlian yang gaib atau magis.

Tindakan terapi:

Dengan mempergunakan pendekatan holistic/budaya melalui :

* Tapa, Bratha Yoga, Meditasi/ Samedhi dan tamba

Tambahan sesuai situasi dan kondisi:

* Menghidupkan chakra/ Kundalini/ genta pinara pitu

* Menghidupkan aksara dalam diri

* Dengan dasa bayu

* Dengan kanda pat.

* Dan Lain Sebagainya. Budha kecapi> Pelaku: Laku astangga yoga

 

Filosofi sehata dan Sakit dalam Usadha Bali

Di dalam keilmuwan usadha, kesehatan adalah kondisi seimbang dari tubuh, jiwa, pikiran dan lingkungan. Untuk mengatasi kesehimbangan jiwa dan pikiran diperlukan lingkungan yang kondusip, didalam lingkungan salah satunya ada tumbuhan (Taru).  Taru sebagai sumber obat didalam i,mu pengobatan. Di Bali ada naskah (lontar) Usada Taru Pramana memiliki kesatuan informasi pengobatan dengan ragam terapi pilihan tumbuhannya. Naskah ini mencatat paling tidak 14 penyakit dengan 161 jenis tumbuhan yang digunakan untuk mengobati penyakit tersebut. 70% diantara jenis tumbuhan tersebut saat ini digunakan dalam pengobatan modern. Taru Pramana sebagai Sarana Usada dalam Masyarkat Hindu di Bali (Perspektif Filosofis dan Edukatif) secara filosofis taru pramana dalam masyarakat Hindu di Bali adalah terkait dengan keyakinan pada Tri Murti sesuai dengan konsep usada Bali tentang sehat dan sakit yang menyatakan penyebab penyakit adalah karena ketidakseimbangan komponen tubuh yang disebabkan oleh panas (Brahma), nyem (Wisnu) dan sebehe (Siwa). Sehat artinya semua itu berada dalam keselarasan. Jika badan panas (Brahma), maka tumbuhan yang bersifat nyem (Wisnu) yang menjadi obatnya. Jika dingin, maka pohon yang berdampak brahma sebagai obatnya. Jika sebehe, maka pohon yang berdampak dari Brahma dan Wisnu sebagai obatnya.

 

Klasifikasi tumbuh-tumbuhan menurut Kitab Caraka dibagi menjadi empat yaitu: (1) Vanaspati, adalah pohon yang berbuah tanpa berbunga, (2) Panaspatyas, adalah pohon yang berbunga dan berbuah, (3) Ausadhi, adalah tumbuh-tumbuhan yang layu setelah berbuah, (4) Virudha, adalah tumbuh-tumbuhan lain yang batangnya menjalar. Virudha terdiri dari dua kelas: (1) Lata, adalah tumbuh-tumbuhan yang menjalar, (2) Gulma, adalah tumbuh-tumbuhan yang berbatang lunak dan lembut. Ausadhi dibagi lagi menjadi (1) Tumbuh-tumbuhan berbuah yang hidupnya musiman atau tahunan, (2) Tumbuh-tumbuhan yang layu setelah dewasa, tanpa meninggalkan buah untuk pembiakan selanjutnya, misalnya: rumput, seperti Durva (rumput kawat-cynodom dactylon). Virudha di bagi menjadi 2 kelas yaitu (1) Tumbuh-tumbuhan menjalar yang batangnya menyebar di atas tanah (pratanavatyah), (2) Tumbuh-tumbuhan yang batangnya lembut (gulminyah). Ausadi adalah tumbuh-tumbuhan yang layu setelah dewasa tanpa berbunga atau berbuah, seperti cendawan, lumut, dan serupa yang lainnya (phalapakanista godhumadayah). Prasastapada, dokter Vaisesika, membedakan tumbuh-tumbuhan yaitu: (1) Trna, yaitu rumput, (2) Ausadhi, yaitu tumbuh-tumbuhan yang layu setelah berbuah, (3) Lata, yaitu tumbuh-tumbuhan yang menjalar dan meramanabat, (4) Avatana, yaitu pohon dan semak, (5) Vrksa, yaitu pohon yang berbunga dan berbuah, (6) Vanaspati, yaitu tumbuh-tumbuhan yang berbuah tanpa berbunga (Megawati, 2013).

Bagian Tanaman untuk Obat

  • Akar (mula)
  • Umbi rimpang (Kandha Mula)
  • Batang (Valkala)
  • Duri (Kikasa)
  • Daun (Palasa)
  • Bunga (puspa)
  • Buah (Phala)
  • dsb

Vyakta (obat sekala) unsur panca mahabutha  dan obat Avyakta (Obat niskala)

 

Pemilihan tanaman obat

Banyak tanaman atau tumbuhan saat ini yang memiliki beraneka warna pada bagian-bagiannya, mulai dari akar, batang, daun, buah, kulit buah, daging buah, dan bijinya. Lalu, timbul pertanyaan apa kegunaan warna-warna tersebut bagi tanaman sendiri, manusia dan lingkungannya secara keseluruhan?

Cara Mendeteksi sifat tanaman:

  1. Dari Warna Bunganya:

Bunganya berwarna putih, kuning, hijau mempunyai khasiat anget atau panas.

Bunganya berwarna merah atau biru termasuk golongan tiis atau dingin

Bunganya berwarna anekaragam termasuk golongan dumelage atau sedang. (Nala. 1994: 212). Tanaman atau tumbuh-tumbuhan yang bunganya berwarna putih, kuning atau hijau dikelompokkan kedalam kelompok tanaman yang berkhasiat anget (panas). Bunganya yang berwarna merah atau biru dikelompokkan kedalam tanaman yang berkhasiat tis (dingin) sedangkan bila warna bunganya beragam dikelompokkan kedalam kelompok tanaman yang berkhasiat sedang.

 

  1. Dari rasa tanaman obat tersebut

Rasanya manis atau asam  mempunyai khasiat anget atau panas.

Rasanya pait atau lalah atau pedas atau sepet termasuk golongan tiis atau dingin

Rasanya nano-nano (amla) termasuk golongan dumelada (Nala. 1994: 212); (Wang, 2013) Bila ditinjau dari rasa obatnya maka kalau rasanya manis atau asam maka dikelompokkan kedalam kelompok tanaman yang panas dan bila rasanya pahit, pedas dan sepat dikelompokkan kedalam kelompok dingin. Obat minum (jamu cair) yang berasa pahit amat baik untuk mengobati panas pada badan dan sakit perut karena dapat mendinginkan badan akibat panas di dalam perut.

Kajian/ Penelitian: Dosen IPB University dari Departemen Agronomi dan Hortikultura, Prof Sandra Arifin Aziz menyampaikan bahwa dibalik warna-warna tersebut ternyata memiliki banyak kegunaan. Warna tersebut menjadi atraktan untuk pollinator atau serangga yang akan menyerbuki bunganya, untuk deteren/penghindar atau pertahanan terhadap musuh alaminya/herbivor baik berupa serangga atau vertebrata, fungi dan bakteri, virus, tumbuhan lain dalam persaingan cahaya, air dan hara.

Selain itu, warna pada tanaman juga menjadi sinyal komunikasi tumbuhan dengan mikroorganisme simbiotik, proteksi terhadap sinar ultra violet atau stress fisik lain. Dan sebagai bahan baku obat, racun, flavour, industri, pestisida hayati bagi kebutuhan manusia.

“Warna pada tumbuhan juga dipakai dalam proses fotosintesis misalnya antosianin dan karotenoid. Pada kondisi tumbuhan mengalami stress maka warna-warna dalam bentuk antosianin dan karotenoid akan meningkat di dalam daun atau bagian-bagian tanaman tertentu.  Oleh karena itu sering kita temukan tumbuhan yang stres, misalnya karena kekeringan akan berwarna lebih merah. Klorofil yang mungkin terganggu aktivitasnya akibat stres yang ada akan dibantu oleh pigmen-pigmen ini.  Pigmen-pigmen ini tidak terlibat secara langsung pada reaksi fotosintesis tetapi mentransfer energinya ke klorofil A, sehingga fotosintesis dapat dilakukan walaupun dalam kondisi stres,” jelasnya.

Menurutnya warna pada tumbuhan sebenarnya adalah hasil metabolisme tanaman atau metabolit yang merupakan suatu bahan kimia tertentu yang dihasilkan pada tempat-tempat tertentu pada fase pertumbuhan tertentu, disimpan di tempat tertentu di dalam tumbuhan dan memiliki fungsi tertentu.

“Warna-warna tersebut ternyata memiliki manfaat bagi kita manusia. Salah satunya adalah sebagai bahan baku obat. Antosianin merupakan metabolit sekunder warna merah muda, merah, biru, ungu sampai ke ungu kehitaman, malah ada yang mengatakan berwarna hitam. Antosianin bisa berubah warna menurut kemasaman atau pH tanah atau cairan pelarutnya.  Sebagai contoh adalah pada bunga bokor (Hydrangea macrophylla) dan kembang telang (Clitoria ternatea),” ujarnya.

Dijelaskan dalam siaran persnya, hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa kembang bokor memiliki khasiat anti alergi dan anti mikrob, selain itu memiliki aktivitas menjaga hati/hepatoprotective.  Ekstrak daunnya merupakan senyawa kimia baru untuk anti malaria dan anti diabetes. Sementara itu khasiat kembang telang adalah untuk meningkatkan daya ingat, mengatasi gangguan kecemasan, meringankan depresi, mengandung antioksidan.

“Secara umum, antosianin yang berwarna merah berkhasiat untuk memperlancar peredaran darah, sehingga membantu kerja jantung.

Untuk antosianin yang berwarna biru, hasil-hasil penelitian menunjukkan bantuan terhadap kestabilan kerja otak dan ginjal. Warna lain yang kita kenal sebagai pigmen di tumbuhan adalah warna merah terang, kuning dan orange atau jingga yang berasal dari pigmen karotenoid.  Warna jingga ini terutama kita temui misalnya pada kulit dan daging buah-buahan, daun yang menua, jagung, labu kuning, tomat, umbi-umbian seperti pada wortel dan ubi jalar, burung flamingo, kenari, ikan salmon, lobster dan udang. Karotenoid memiliki sifat antioksidan dan dapat mengurangi perkembangan kanker, meningkatkan sistem imun tubuh..

Provitamin A karotenoid dapat diubah menjadi vitamin A yang penting untuk pertumbuhan, fungsi imun, dan kesehatan mata. Tubuh manusia mengubah beta karoten, yang merupakan prekursor vitamin A, menjadi vitamin A (retinol). Manusia memerlukan vitamin A untuk kesehatan kulit dan membrane mukus.

Sejarah Usada Bali Part 2

Sejarah Usada Bali

SEJAK KAPAN USADHA ADA DI BALI?

  1. Kearifan lokal Masyarakat Bali aga

Sudah ada sebelumnya yang berasal dari kearifan lokal (Penduduk Bali Aga) yang dilakukan oleh masyarakat Bali aga yang telah ada sebelum datang Para Rsi dan Para Mpu dan Para Danghyang ke Bali.

  1. Dari para penyebar Kebudayaan (Agam Hindu)

Datangnya Rsi Markandiya

Perjalanan Rsi Markandiya pada awal abad ke 8. Beliau maha Rsi berasal dari India Selatan Gunung Dieng (Jawa Tengah) kerajaan Mataram Kuno  dengan rajanya Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu yang sebelumnya raja Wangsa Syailendra yang beragama Budha.

Diperkirakan ada bencana meletus gunung berapi (hancur borobudur dan Perambanan) maka pindah ke arah timur membentuk Kerajaan Medang Kembulan oleh Mpu Sendok.kemudian ke Gunung Dieng, Gunung Raung (Jawa Timur) lalu ke Bali. Beliau dengan pengikutnya gagal di Bali karena wabah dengan aura mistis yang sangat kuat, lalu balik ke Gunung Raung.

Hasil meditasinya mendapatkan pawisik supaya membuat ritual sebelum merabas hutan. kemudian ke Bali menuju tempat tertinggi yaitu Gunung Tohlangkir (Gunung Agung) di kaki gunung ini (Besakih) menanam panca datu (emas, perak, perunggu, tembaga dan besi). lalu Pulau yang panjang ini diberi nama Pulau Bali. Kata ‘Bali’ dari akar kata  ‘Wali’ yang berasal dari bahasa Palawa yang berkembang di India Selatan.

Wali yang kurang lebih artinya ‘persembahan’ (Banten pada masa sekarang). Besakih diberi nama  Basuki , yang berarti ‘Selamat’. kemudian melanjutkan perjalanan ke Gunung Silawanayangsari (Gunung Lempuyang). kemudian melanjutkan perjalanan ke arah barat Desa Puakan Taru Kaja (Pura Gunung Raung). kemudian dalam lontar Markandia  Purana, ada titik sinar terang di Payugan (Pura Puncak payogan).

Ada dua sungai yang berlika-liku mirip dua ekor naga. sungai yang disebelah barat bernama Sungai Wos barat dan yang disebelah timur bernama Sungai Wos Timur pertemuan sungai ini disebut Campuan dengan mendirikan Pura Gunung Lebah.

Di Campuan ini melakukan pembersihan dan pembersihan diri dari segala mala petaka (dasa Mala). dipingir sungai Wos disambut oleh muridnya sanak keluarga Sang Bhujangga Waisnawa.

Wos ngaran Usadi, usadi ngaran Usada, Usada nagarn Ubad kemudian di transkripksikan Ubud. bepergian ke barat menuju Pahyangan (Pura Murwa). Disini ada sekta Siwa, Budha dan Wisnawa. Pada jaman abad ke 14 (jaman Watu Renggong) berkembang menjadi 9 sekta (Brahmana, Bodha atau Sogatha, Bhairawa, Ganapatya, Pasupata, Rsi, Sora, Waisnawa, Siwa Sidantha)

 

  1. Datangnya Mpu Kuturan

Didalam Lontar Mpu Kuturan yang datang ke Bali sekitar akhir abad 9. Mpu Kuturan sebagai ahli Tata Kemasyarakatan, arsitek tempat suci dari kerajaan Majapahit (Wilwatikta).

Jaman kerajaan Udayana Warmadewa di Bali. jaman Udayana telah menunjukkan bahwa agama Siwa dan Budha hidup berdampingan. Beliau hadir di Bali datang dari Majapahit selanjutnya membangun meru-meru yang ada di Pura Agung Besakih.

Semenjak itu penganut Ciwa Budha harus mendirikan tiga buah bangunan suci (pura) untuk memuja Sang Hyang Widhi Wasa dalam perwujudannya yaitu Pura “Kahyangan Tiga” yang menjadi lambang persatuan umat Ciwa Budha di Bali.

Semua sekte disatukan, ke 9 sekta (Brahmana, Bodha atau Sogatha, Bhairawa, Ganapatya, Pasupata, Rsi, Sora, Waisnawa, Siwa Sidantha). Mendirikan pura-pura Kayangan Kagat.

  1. Datangnya Dahnyang Niratha atau Danghyang Dwijendra

Pada abad ke-14, kerajaan Majapahit mengalami keruntuhan yaitu karena terjadi  perang saudara (Perang Paregreg) dan juga karena serangan dari Kerajaan Demak.

Akibat dari hal tersebut, agama Hindu akhirnya surut oleh pengaruh agama Islam. Danghyang Nirartha datang ke Bali pada tahun 1489 M, pada masa pemerintahan Raja Sri Dalem Waturenggong, Beliau tokoh rohaniawan Majapahit datang ke Bali dalam rangka dharmayatra.

Danghyang Dwijendra meninggalkan pemutik (ada juga menyebut pengutik) dengan tangkai (pati) kayu ancak. Pati kayu ancak itu ternyata hidup dan tumbuh subur menjadi pohon ancak. Sampai sekarang daun kayu ancak dipergunakan sebagai kelengkapan banten di Bali.

Sebagai peringatan dan penghormatan terhadap beliau, dibangunlah sebuah pura yang diberi nama Purancak. Perubahan nama Danghyang Nirartha menjadi Danghyang Dwijendra terjadi setelah beliau berguru dan didiksa oleh mertuanya, yaitu Danghyang Panawasikan.

Setelahnya Danghyang Nirartha dianugerahi bhiseka kawikon dengan nama Danghyang Dwijendra. Beliau Pencipta arsitektur padmasana untuk Hindu di Bali.

Beliau banyak mendirikan Pura-Pura terutama di daerah selatan pulau Bali, seperti Pura Rambut siwi, Pura Melanting, Pura Er Jeruk, Pura Petitenget dan lain-lain yang dikenal dengan Pura Dang Kahyangan. Di Ponjok Batu sang wiku menemukan beberapa nelayan yang memerlukan bantuan beliau, para nelayan itu adalah pelaut-pelaut Lombok yang telah terdampar beberapa hari dan keadaaannya sangat lemah.

Sang wiku merawat dan memberikan nasihat untuk memulihkan semangat para pelaut itu. Akhirnya para pelaut sembuh, dan mereka amat berterimakasih kepada sang rsi.

Di Lombok dengan pengikutnya yaitu orang – orang Sasak di Pulau Lombok yang mempelajari Islam dengan sebutan Islam Wetu Telu.

  1. Perkembangan medis barat

Semenjak berkembangnya pengobatan modern sekarang ini.

Dokument Ajaran Usadha di Bali (Lontar-lontar Usadha dan sastra-sastra Kuno / Tatwa-tatwa):

Data usada dari Fakultas Sastra Universitas Udaya diperoleh dari naskah yang sudah dialihaksarakan dan diterjemahkan oleh tim Fakultas Sastra Universitas Udayana. Dalam laporan yang berjudul “Lontar Usada Bali, 2007” di dalamnya terdapat beberapa judul, yakni “Usada Buduh” (pengobatan sakit untuk orang gila), “Usada Cukildaki” (pengobatan rematik), “Usada Dalem” (pengobatan penyakit dalem), “Usada Ila” (pengobatan penyakit lepra), “Usada Kacacar” (pengobatan sakit cacar), “Usada Kuda”, “Usada Kurantang bolong”, “Usada Manak”, “Usada Pamugpug”, “Usada Pamugpugan”, “Usada Raré” (pengobatan untuk anak-anak), “Usada Tiwangdan “Usada Budhakecapi”. Laporan penelitian tersebut dikerjakan oleh Tim Fakultas Sastra Universitas Udayana, 2007. Di antara naskah-naskah tersebut dalam makalah ini hanya dibahas beberapa naskah dengan kasus penyakit dan sistem pengobatannya, yang dianggap menarik dan unik.

Sejarah Usada Bali Part 1

Sejarah Usada Bali

Usada Bali sebagai kekayaan pengetahuan lokal masyarakat masih dipelihara masyarakat Bali sebagai pemilik tradisi. Hal itu terbukti dengan ditemukannya khazanah usada sebagai kekayaan dalam bidang kesehatan dengan berbagai sistem pengobatan penyakit-penyakit. Dukungan masyarakat terhadap kekayaan pengetahuan lokal itu juga ditandai dengan tersimpannya kekayaan budaya ini di rumah pemilik, pedanda, dan beberapa lembaga. Para pemilik usada juga masih memegang tradisi dalam menjaga warisan budaya nenek moyang mereka. Untuk membuka lontar usada digunakan upacara buka lontar.

Usada adalah ilmu pengobatan tradisional Bali memiliki banyak ajaran dan ajaran itu berkaitan dengan berbagai cara pengobatan dan berbagai upacara dalam penyucian diri. Lontar sebagai sebuah alas tulis dengan aksara Bali sebagai alat tulisnya juga dianggap suci. Tradisi usada di daerah itu masih hidup, bahkan hampir tiap pedanda memiliki lontar usada. Salah satu bukti bahwa perawatan tradisi perobatan berlanjut hingga kini, di antaranya dengan banyaknya pedanda yang masih aktif mengobati masyarakat dan banyaknya koleksi naskah yang dimiliki para pedanda. Naskah usada yang ditulis di atas lontar di Bali sangat besar jumlahnya. Lontar itu dianggap suci termasuk aksaranya. Oleh sebab itu, pada saat membaca atau membuka lontar usada ini, masyarakat Bali yang menjadi pemiliknya selalu mengadakan upacara. Upacara disertai dengan berbagai doa dan perangkat upacara. Lontar usada ini banyak disimpan masyarakat yang di antaranya oleh para pedanda dan banyak lembaga. Lembaga pemilik lontar ini termasuk lembaga adat. Usada adalah istilah untuk sistem perobatan masyarakat Bali yang ditulis di atas lontar dengan bahasa dan aksara Bali.

Dalam Ajaran Hindu yang asalnya dari India dengan empat sumber ajarannya berupa kitam catur veda yaitu: Rg Veda, Sama Veda, Yayur Veda, dan Atharva Veda. Veda ini dikelompokkan menjadi Veda Sruti dan veda Smerti. Pada kelompok Veda Sruti ada sub kelompok yaitu: bagian Mantra, bagian Brahmana (Karma Kanda) dan bagian Upanisad/Aranyaka (Jńăna kanda). Pada bagian kelompok Upanisad ada jenis Purana, jenis Arthasastra,  jenis AyurVeda dan Jenis GandharwaVeda. Pada sub Upanisad jenis Ayurveda inilah adanya ilmu pengobatan yang menyangkut bidang kesehatan jasmani dan rokhani dengan berbagai sistim sifatnya. Kitab Ayurveda ini sebagai sumber ilmu kedokteran Hindu. Ayurveda berasal dari kata Sansekerta, ayur yang berarti kehidupan dan veda berarti pengetahuan. Ayurveda adalah Ilmu yang mencakup seluruh hidup kita, tubuh, pikiran dan jiwa. Dari sinilah diperkirakan asal usul Usadha Bali. Mengingat kata Usadha berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu Usadhi yang berarti obat.

Apa itu Pengobatan Usada Bali

Apa itu Pengobatan Usada Bali?

Di Bali pengobatan tradisional disebut Usada. Usada berasal dari kata ausadhi (bahasa Sanskerta) yang berarti pengobatan dengan dari bahan-bahan alami. Pelaku sebagai pengobat tradisional Bali disebut Balian atau Usadawan (Nala, 1993).

Menurut Dr. Amarullah H. Siregar (dalam Dharma. 2004) bahwa obat-obatan kimia lebih banyak bertujuan untuk mengobati gejala penyakitnya, tetapi tidak menyembuhkan sumbernya, intinya obat kimia hanya mampu memperbaiki beberapa sistem tubuh. Hal inilah mendasari para penderita penyakit memilih pengobatan dengan obat herbal yang bekerja langsung pada sumbernya dengan memperbaiki keseluruhan sistem tubuh yakni dengan memperbaiki sel-sel, jaringan, dan organ-organ tubuh yang rusak serta dengan meningkatkan sistem kekebalan tubuh untuk berperang melawan penyakit.

Jadi Pengobat tradisional yang dimaksud disini adalah mereka yang melakukan praktek terapi pengobatan tradisional Bali. salah satunya Terapi Komplementer Usada Bali Taru Pramana.

REAKSI RAMUAN HERBAL LAMBAT NAMUN PASTI MEMUASKAN

ramuan-herbal

REAKSI RAMUAN HERBAL LAMBAT NAMUN PASTI MEMUASKAN

ramuan-herbal

Masyarakat yang mengonsumsi herbal untuk pertama kalinya, mungkin akan dikejutkan oleh efek dan reaksi tidak menyenangkan yang dihasilkannya. Akibatnya, seringkali beberapa masyarakat menyimpulkan bahwa mereka mengalami keracunan. Mari kita lihat reaksi seperti apa yang dimaksudkan dalam penjelasan berikut.

Reaksi Ramuan Obat Herbal

Reaksi yang dimaksudkan di atas, biasanya akan muncul dalam bentuk yang berbeda-beda pada tiap masyarakat. Terkadang, pada awal terapi herbal, perut Kita akan terasa seperti dikocok selama satu atau dua hari, pusing, mual, dan sakit perut mungkin menyertainya. Jika kita mengalaminya, jangan khawatir! Secara umum dikatakan bahwa reaksi ini adalah efek penyesuaian tubuh, dimana tubuh menyesuaikan sistem metabolisme untuk bisa memanfaatkan pengobatan yang diberikan oleh herbal tersebut dan biasanya akan hilang setelah beberapa hari. Selain efek penyesuaian tersebut, akan ada efek detoksifikasi, dimana tubuh mengeluarkan racun atau zat-zat berbahaya dari dalam tubuh ketika/setelah menerima pengobatan. Reaksi yang mungkin muncul adalah batuk-batuk, pilek, demam, gatal-gatal, banyak mengeluarkan keringat, sering buang air kecil dan besar dan sekali lagi efek tersebut akan berbeda-beda pada tiap masyarakat. Jika kita merasakan reaksi atau efek yang tidak menyenangkan tersebut, ketika/setelah menggunakan obat herbal, jangan menyerah dan menghentikan pengobatan yang diberikan, itu sama saja dengan menghentikan proses pengobatan dan pemulihan. Jika kita tidak yakin, konsultasikan dengan ahli herbal kita dan ikuti petunjuk yang diberikan. Biasanya, ahli herbal akan menganjurkan kita mengurangi dosis untuk meringankan efek tersebut dan memberikan waktu bagi tubuh untuk menyesuaikan diri dengan bekerjanya obat herbal.

Bagaimana sistem Kerja Ramuan Herbal

Sesemasyarakat yang memutuskan untuk menggunakan obat herbal sebagai pengobatan harus sabar menunggu hasilnya. Mengapa? Salah satu prinsip kerja herbal adalah reaksi obat herbal yang lambat. Tidak seperti obat kimia yang bisa langsung bereaksi, reaksi obat herbal dan manfaatnya umumnya baru dapat dirasakan setelah beberapa minggu atau beberapa bulan penggunaan. Hal itu disebabkan, senyawa-senyawa berkhasiat di dalam obat herbal membutuhkan waktu untuk menyatu dalam metabolisme tubuh. Berbeda dengan obat kimia yang bekerja dengan cara meredam rasa sakit dan gejalanya, obat herbal bekerja dengan berfokus pada sumber penyebabnya. Artinya, reaksi obat herbal bekerja dengan cara membangun dan memperbaiki keseluruhan sistem tubuh dengan memperbaiki sel dan organ-organ yang rusak. Tak heran, dibutuhkan waktu yang relatif lebih lama untuk merasakan efek obat herbal dibandingkan jika kita menggunakan obat kimia. Alasan lain, kebanyakan obat herbal yang beredar di pasaran bukan berupa senyawa aktif yang diperoleh dari proses ekstraksi melainkan berasal dari bagian tanaman obat yang diiris, dikeringkan, dan dihancurkan.

Chat Whatsapp
0