Sejarah Usada Bali Part 2

SEJAK KAPAN USADHA ADA DI BALI?

  1. Kearifan lokal Masyarakat Bali aga

Sudah ada sebelumnya yang berasal dari kearifan lokal (Penduduk Bali Aga) yang dilakukan oleh masyarakat Bali aga yang telah ada sebelum datang Para Rsi dan Para Mpu dan Para Danghyang ke Bali.

  1. Dari para penyebar Kebudayaan (Agam Hindu)

Datangnya Rsi Markandiya

Perjalanan Rsi Markandiya pada awal abad ke 8. Beliau maha Rsi berasal dari India Selatan Gunung Dieng (Jawa Tengah) kerajaan Mataram Kuno  dengan rajanya Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu yang sebelumnya raja Wangsa Syailendra yang beragama Budha.

Diperkirakan ada bencana meletus gunung berapi (hancur borobudur dan Perambanan) maka pindah ke arah timur membentuk Kerajaan Medang Kembulan oleh Mpu Sendok.kemudian ke Gunung Dieng, Gunung Raung (Jawa Timur) lalu ke Bali. Beliau dengan pengikutnya gagal di Bali karena wabah dengan aura mistis yang sangat kuat, lalu balik ke Gunung Raung.

Hasil meditasinya mendapatkan pawisik supaya membuat ritual sebelum merabas hutan. kemudian ke Bali menuju tempat tertinggi yaitu Gunung Tohlangkir (Gunung Agung) di kaki gunung ini (Besakih) menanam panca datu (emas, perak, perunggu, tembaga dan besi). lalu Pulau yang panjang ini diberi nama Pulau Bali. Kata ‘Bali’ dari akar kata  ‘Wali’ yang berasal dari bahasa Palawa yang berkembang di India Selatan.

Wali yang kurang lebih artinya ‘persembahan’ (Banten pada masa sekarang). Besakih diberi nama  Basuki , yang berarti ‘Selamat’. kemudian melanjutkan perjalanan ke Gunung Silawanayangsari (Gunung Lempuyang). kemudian melanjutkan perjalanan ke arah barat Desa Puakan Taru Kaja (Pura Gunung Raung). kemudian dalam lontar Markandia  Purana, ada titik sinar terang di Payugan (Pura Puncak payogan).

Ada dua sungai yang berlika-liku mirip dua ekor naga. sungai yang disebelah barat bernama Sungai Wos barat dan yang disebelah timur bernama Sungai Wos Timur pertemuan sungai ini disebut Campuan dengan mendirikan Pura Gunung Lebah.

Di Campuan ini melakukan pembersihan dan pembersihan diri dari segala mala petaka (dasa Mala). dipingir sungai Wos disambut oleh muridnya sanak keluarga Sang Bhujangga Waisnawa.

Wos ngaran Usadi, usadi ngaran Usada, Usada nagarn Ubad kemudian di transkripksikan Ubud. bepergian ke barat menuju Pahyangan (Pura Murwa). Disini ada sekta Siwa, Budha dan Wisnawa. Pada jaman abad ke 14 (jaman Watu Renggong) berkembang menjadi 9 sekta (Brahmana, Bodha atau Sogatha, Bhairawa, Ganapatya, Pasupata, Rsi, Sora, Waisnawa, Siwa Sidantha)

 

  1. Datangnya Mpu Kuturan

Didalam Lontar Mpu Kuturan yang datang ke Bali sekitar akhir abad 9. Mpu Kuturan sebagai ahli Tata Kemasyarakatan, arsitek tempat suci dari kerajaan Majapahit (Wilwatikta).

Jaman kerajaan Udayana Warmadewa di Bali. jaman Udayana telah menunjukkan bahwa agama Siwa dan Budha hidup berdampingan. Beliau hadir di Bali datang dari Majapahit selanjutnya membangun meru-meru yang ada di Pura Agung Besakih.

Semenjak itu penganut Ciwa Budha harus mendirikan tiga buah bangunan suci (pura) untuk memuja Sang Hyang Widhi Wasa dalam perwujudannya yaitu Pura “Kahyangan Tiga” yang menjadi lambang persatuan umat Ciwa Budha di Bali.

Semua sekte disatukan, ke 9 sekta (Brahmana, Bodha atau Sogatha, Bhairawa, Ganapatya, Pasupata, Rsi, Sora, Waisnawa, Siwa Sidantha). Mendirikan pura-pura Kayangan Kagat.

  1. Datangnya Dahnyang Niratha atau Danghyang Dwijendra

Pada abad ke-14, kerajaan Majapahit mengalami keruntuhan yaitu karena terjadi  perang saudara (Perang Paregreg) dan juga karena serangan dari Kerajaan Demak.

Akibat dari hal tersebut, agama Hindu akhirnya surut oleh pengaruh agama Islam. Danghyang Nirartha datang ke Bali pada tahun 1489 M, pada masa pemerintahan Raja Sri Dalem Waturenggong, Beliau tokoh rohaniawan Majapahit datang ke Bali dalam rangka dharmayatra.

Danghyang Dwijendra meninggalkan pemutik (ada juga menyebut pengutik) dengan tangkai (pati) kayu ancak. Pati kayu ancak itu ternyata hidup dan tumbuh subur menjadi pohon ancak. Sampai sekarang daun kayu ancak dipergunakan sebagai kelengkapan banten di Bali.

Sebagai peringatan dan penghormatan terhadap beliau, dibangunlah sebuah pura yang diberi nama Purancak. Perubahan nama Danghyang Nirartha menjadi Danghyang Dwijendra terjadi setelah beliau berguru dan didiksa oleh mertuanya, yaitu Danghyang Panawasikan.

Setelahnya Danghyang Nirartha dianugerahi bhiseka kawikon dengan nama Danghyang Dwijendra. Beliau Pencipta arsitektur padmasana untuk Hindu di Bali.

Beliau banyak mendirikan Pura-Pura terutama di daerah selatan pulau Bali, seperti Pura Rambut siwi, Pura Melanting, Pura Er Jeruk, Pura Petitenget dan lain-lain yang dikenal dengan Pura Dang Kahyangan. Di Ponjok Batu sang wiku menemukan beberapa nelayan yang memerlukan bantuan beliau, para nelayan itu adalah pelaut-pelaut Lombok yang telah terdampar beberapa hari dan keadaaannya sangat lemah.

Sang wiku merawat dan memberikan nasihat untuk memulihkan semangat para pelaut itu. Akhirnya para pelaut sembuh, dan mereka amat berterimakasih kepada sang rsi.

Di Lombok dengan pengikutnya yaitu orang – orang Sasak di Pulau Lombok yang mempelajari Islam dengan sebutan Islam Wetu Telu.

  1. Perkembangan medis barat

Semenjak berkembangnya pengobatan modern sekarang ini.

Dokument Ajaran Usadha di Bali (Lontar-lontar Usadha dan sastra-sastra Kuno / Tatwa-tatwa):

Data usada dari Fakultas Sastra Universitas Udaya diperoleh dari naskah yang sudah dialihaksarakan dan diterjemahkan oleh tim Fakultas Sastra Universitas Udayana. Dalam laporan yang berjudul “Lontar Usada Bali, 2007” di dalamnya terdapat beberapa judul, yakni “Usada Buduh” (pengobatan sakit untuk orang gila), “Usada Cukildaki” (pengobatan rematik), “Usada Dalem” (pengobatan penyakit dalem), “Usada Ila” (pengobatan penyakit lepra), “Usada Kacacar” (pengobatan sakit cacar), “Usada Kuda”, “Usada Kurantang bolong”, “Usada Manak”, “Usada Pamugpug”, “Usada Pamugpugan”, “Usada Raré” (pengobatan untuk anak-anak), “Usada Tiwangdan “Usada Budhakecapi”. Laporan penelitian tersebut dikerjakan oleh Tim Fakultas Sastra Universitas Udayana, 2007. Di antara naskah-naskah tersebut dalam makalah ini hanya dibahas beberapa naskah dengan kasus penyakit dan sistem pengobatannya, yang dianggap menarik dan unik.

Chat Whatsapp
0